Seorang anak yang dilahirkan didunia ini merupakan bentuk yang paling sempurna hasil penciptaan Allah. Meski bukan berarti kesempurnaan fisik, akan tetapi sebenarnya Allah telah menganugerahkan beragam potensi dan kemampuan yang harus disadari oleh setiap individu pada saat mengalami perkembangan usia, entah itu seorang anak yang cengeng dan sensitif, anak yang pemarah, anak yang kurang ekspresif, anak yang pemalu, dll. Potensi dan kemampuan inilah yang seharusnya disadari oleh orangtua sebagai pendidik utama didalam keluarga sehingga bisa segera ditindaklanjuti dalam bentuk pengembangan yang beragam.
Mungkin sebagian besar kecenderungan orangtua ketika menemui bakat dan minat seorang anak yang tidak sesuai dengan kemauannya adalah serta merta mengalihkan aktivitas anak pada hal yang berbeda yang sama sekali diluar bakatnya, mungkin maksud orangtua ini tidaklah salah agar dapat mengetahui potensi anak dibidang yang lain, hanya saja juga kurang tepat ketika sama sekali menghentikan perhatian anak dari aktivitas anak yang sebenarnya menjadi bakat dan minatnya. Karena seorang anak cenderung berubah-ubah maka biarkan dia mengalir seperti air, mengikuti insting yang dituntun oleh potensinya untuk melakukan sesuatu, tugas orangtua hanyalah mengarahkan dan menunjukkan bahwa ”ini benar” dan ”ini kurang tepat”.
Mungkin saya memang tidak mempelajari ilmu psikologi, saya juga tidak berpengalaman, tapi menurut yang saya fahami jika pada saat proses pertumbuhan dan perkembangannya seorang anak terlalu banyak dibatasi untuk mengembangkan potensinya maka dia cenderung menjadi anak yang pendiam, pemalu, pasif atau bahkan sebaliknya menjadi pemberontak dan pemarah. Karena sebenarnya tidak ada anak yang pemalu, tidak ada anak pendiam, yang ada adalah anak tersebut terlalu banyak menerima batasan-batasan yang menghambat perkembangan potensinya dan batasan-batasan tersebut tersimpan dibawah alam sadarnya yang mengendap dalam memori otaknya bahwa dia tidak boleh begini, harus begini, harus begitu, ini salah, dll.
Mungkin saya kelihatan sok tau ya.. ^_^ karena saya bukan seorang psikolog anak atau semacamnya. Tapi saya hanya berusaha memahami apa yang selama ini menjadi perhatian saya atau bahkan mungkin saya dan adik laki-laki saya sebenarnya juga mengalaminya. Saya memang hanya dua bersaudara yang lahir dari keluarga yang sangat memegang teguh ajaran agama islam.
Sejak kecil saya dan adik saya sudah mengalami didikan yang keras dari ayah sebagai kepala keluarga, sejauh saya tahu semua yang diajarkan ayah saya memang bagus, karena yang terjadi adalah perkembangan saya sangat pesat, saya sudah bisa baca Al-Qur’an sejak kelas satu SD, saya sudah ikut lomba MTQ sejak saya SD dan mendapat juara satu sekodya surabaya, kelas 5 SD saya juara satu lomba pidato sekodya sby, meski akibatnya sejak kecil saya tidak pernah dekat dengan ayah saya, dan ketakutan setiap kali akan memulai bicara dengan beliau karena ada hal yang saya sangat ingin sekali lakukan tapi saya tidak boleh lakukan, saya tidak boleh mengaji di TPQ bersama anak-anak yang lain dan jika saya melanggarnya saya akan dihukum habis-habisan oleh ayah (hehe maaf ya ayah..) saya hanya boleh mengaji dirumah..dengan ayah saya, itupun saya harus cepat belajar mengeja lafadz-lafadz Al-Qur’an dengan ejaan yang sudah harus benar dan fasih, seusai mengaji bisa dijamin baju saya pasti akan basah oleh keringat karena saya amat takut salah pd saat mengaji dan tidak mau kena marah ayah. Saya juga sangat senang memainkan pianika dan kata ibu saya, saya bisa cepat belajar dan memainkan banyak lagu dengan pianika tersebut. Saya juga menjadi salah satu vokalis penyanyi cilik di salah satu grup musik di sby karena saya sangat senang menyanyi. Pendek kata, saya menjadi anak yang aktif dan tidak pernah malu tampil di depan umum.
Pada suatu hari saat saya masih SD saya diikutkan tes bakat dan minat, dan hasilnya bakat dan minat saya 80% di bidang seni, dan tes itu juga terulang pada saat saya SMU dan masih dengan hasil yang sama. Tapi saya tidak memiliki peluang untuk mengembangkan potensi saya karena ayah sebagai kepala keluarga memegang otoritas penuh akan keberlangsungan pendidikan putra-putrinya. Saya harus sekolah disini, sejak SMP kelas I saya harus masuk pesantren, kuliah disini, kegiatan yang boleh saya ikuti ini, lomba yang boleh saya ikuti ini dan hingga SMU saya sering mendapatkan Juara I lomba pidato, juara I lomba MTQ, mewakili sekolah saya di lomba MSQ hingga tingkat propinsi.. apa yang dilakukan orangtua saya memang benar, tujuannya adalah untuk mendidik putra-putrinya dengan baik dan saya tidak pernah menyesal dengan kehidupan yang sudah saya jalani. Tapi, disaat saya sudah mulai kuliah hingga sekarang disaat saya sudah menyelesaikan studi, saya masih merasa ada yang sangat kurang dari diri saya, saya memang punya cita-cita dan impian, tapi saya merasa kurang karena tidak bisa mengaktualisasikan potensi saya dibidang seni, saya selalu mencari-cari apa dan dimana saya bisa mewadahinya, tapi saya merasa saya sudah agak terlambat. Saya sangat iri dengan Bang Opick, Noe vokalis LETTO, Wafiq Azizah, Sulis, dll ^_^ karena mereka punya kesempatan untuk beraktualisasi dan mendakwahkan islam melalui karya seni mereka. Tapi saya tidak putus asa, semoga suatu hari nanti saya tetap bisa beraktualisasi dan mendakwahkan islam dengan potensi apapun yang saya miliki ^_^
Hikmah yang ingin saya bagi adalah betapa indahnya seandainya setiap orangtua bisa mensinergikan apa yang menjadi harapannya terhadap putra putrinya tanpa harus mengabaikan potensi alami yang ada pada diri seorang anak, betapa Maha Besarnya Allah yang telah melengkapi diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki, karena sesungguhnya tidak ada satupun yang sia-sia dari penciptaan Allah SWT ^_^
.:: Memahami Bakat dan Minat Anak ::.
Kamis, 23 Oktober 2008
Diposting oleh ROMYUN ALVY KHOIRIYAH di 23.48
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar