Sekali lagi saya temukan pemandangan itu, seorang ibu berjilbab dengan anak gadisnya yang belia..yang membuat aneh adalah anak gadis itu dibiarkannya berjalan diluar dalam keadaan “setengah berbusana” (begitu biasanya saya dan ayah menyebut perempuan yang auratnya terbuka). Bagaimana mungkin seorang ibu yang telah berjilbab membiarkan putrinya yang sudah baligh dalam keadaan setengah telanjang seperti itu, terus terang saya prihatin dengan kondisi tersebut, bukan karena saya adalah manusia yang sempurna dan tidak bisa berbuat salah, akan tetapi secara kasat mata orang awwam pun akan bisa menilai bagaimana mungkin perintah wajib menutup aurat bagi seorang muslimah yang telah difahami oleh seorang ibu yang telah berjilbab tidak ditularkan terhadap anak gadisnya, jika anak gadis itu belum mengikuti ibunya yang berjilbab, minimal dia tidak memakai busana yang benar benar mempertontonkan aurat yang seharusnya ditutup dan dilindungi.
Pemandangan ini sudah seringkali saya temui, di mall, stasiun, di tempat casting, di kontes modeling, bagaimana seorang gadis dengan celana pendek, baju dengan lengan dan dada terbuka, berlenggak lenggok diluar dengan didampingi ibunya yang berjilbab, dan lebih aneh lagi…pada umumnya fenomena ini saya temukan pada kalangan keluarga “kelas atas”, mungkin fenomena ini terlalu pahit untuk diungkapkan, khususnya bagi yang bersangkutan (jika kebetulan membaca tulisan ini). Tapi itulah kenyataannya.. pemandangan yang sering saya temui inilah yang pada akhirnya menggelitik saya untuk menuliskannya.
Sebenarnya apa yang menjadi penyebab? Dalam hal ini apakah orangtua yang terlalu memberi kelonggaran “mendidik” seorang anak, ataukah seorang anak yang membangkang terhadap orangtua. Tetapi bukankah sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk mendidik anak-anak yang telah diamanahkan Allah SWT kepadanya dengan memberikan pengetahuan agama yang baik sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan, terutama dalam hal tauhid, akidah akhlaq dan fiqih. Dalam kaitannya dengan fenomena diatas adalah ketika sang ibu memahami bahwa menutup aurat adalah perintah yang wajib lantas kenapa masih memberikan kelonggaran pada anak gadisnya untuk mengumbar auratnya, apalagi dalam konteks pengembangan diri seperti yang saya sebutkan diatas. Saya rasa ada banyak media pengembangan diri yang luas tanpa harus melanggar batas-batas syar’i. Kalaupun pembangkangan terjadi pada seorang anak, maka orangtua berhak untuk memberikan pengertian yang tegas, apalagi perintah menutup aurat adalah perintah langsung dari Allah SWT yang memiliki kedudukan tertinggi daripada perintah orangtua.
Kelonggaran dan toleransi terhadap hal-hal yang “dianggap” kecil dan sepele belum tentu mendatangkan mudharat yang tidak besar nantinya, bisa jadi toleransi terhadap anak dalam hal menutup aurat dengan alasan apapun ternyata justru berdampak pada pergaulan yang justru membawa sang anak pada dunia yang jauh dari harapan orangtua. Saya sebagai muslimah yang juga sedang “belajar” ketika melihat pemandangan tersebut sejujurnya hati saya teriris, pedih, seketika saya cuma bisa memejamkan mata dan hanya bisa membathin, saya hanya membayangkan seandainya itu terjadi pada diri saya “bagaimana mungkin jika saya yang berjilbab kemudian membiarkan anak gadis saya yang telah baligh nyaris telanjang dihadapan umum - Naudzubillah Min Dzalik” Benarkah ini bagian dari fenomena akhir zaman, dimana sang ibu sebagai orangtua rela membiarkan aurat anak gadisnya ditelanjangi dengan bebas oleh mata kaum adam entah dengan alasan apapun, popularitas, kesuksesan, dll yang menurut saya pasti semu karena hanya berlandaskan keinginan duniawi semata. Bukankah setiap saat Allah bisa saja mengambil nyawa kita tanpa memandang berapa usia kita, apakah kita telah siap, apakah kita telah bertaubat, dan ketika nafas telah sampai di tenggorokan, apa dan siapakah yang kita ingat... Wallahua’lam.
.:: IBU BERJILBAB Vs ANAK GADIS ::.
Rabu, 03 Desember 2008
Diposting oleh ROMYUN ALVY KHOIRIYAH di 20.20
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar