"Apa hukumnya merokok menurut islam?”
“Kenapa orang usia produktif lebih banyak yang kena AIDS?”
“Syeikh Puji itu kan istrinya banyak, jadi ada kemungkinan dia kena AIDS ga?”
“Amrozi itu salah nggak sih mbak? Kenapa dihukum mati?”
“Kenapa orang kok banyak yang pake Narkoba?”
Begitulah sebagian pertanyaan anak-anak SLTP pada acara sosialisasi penanggulangan HIV AIDS dalam rangka peringatan Hari AIDS se dunia. Tidak mudah untuk memahami apa yang mereka fikirkan memang, meski gerak gerik dan perilakunya terkadang terlihat polos akan tetapi sebenarnya proses yang mereka alami banyak memberikan input yang seringkali tak tersaring serta memerlukan media untuk bisa mengurai keterbukaan. Hal itu bisa dilihat dari berbagai respon yang muncul manakala saya dan teman-teman memaparkan materi yang berkaitan dengan HIV AIDS yang salah satu penanggulangannya adalah dengan cara mengikuti sistem pergaulan secara islami.
Sorak sorai mereka begitu ramai manakala teman saya membahas tentang “pacaran”, khususnya siswa laki-laki, sedangkan siswi perempuan lebih banyak hanya tersenyum dan diam, respon alami memang, dimana anak perempuan memang dikenal lebih pemalu dan pendiam sementara anak laki-laki cenderung lebih berani berekspresi. Gelora serta rasa ingin tahu mereka yang cukup besar membuat mereka memberikan respon yang berbeda pada setiap anak terhadap input. Oleh karenanya, lingkungan tempat remaja tahap awal ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap proses perkembangan emosi mereka. Lingkungan terdekat, baik itu orang tua, teman, tempat beraktivitas, dll sangat berpengaruh terhadap kecerdasan remaja dalam menangkap nilai-nilai yang mereka dapatkan guna merumuskan prinsip hidup yang selanjutnya akan menjadi input bagi syaraf otak dan hati untuk bisa membedakan mana yang benar dan salah.
Pokok permasalahan utamanya adalah kecemasan terhadap permasalahan remaja ini tidak disadari sepenuhnya oleh remaja itu sendiri, mereka hanya berpandangan bahwa orang dewasa cenderung berlebihan dalam mewaspadai perilaku mereka. Sehingga komunikasi yang dibangun antara remaja dan orang dewasa yang terkait dalam lingkungannya (orangtua) menjadi hal paling penting untuk meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya kewaspadaan diri. Akan tetapi orangtua juga tidak bisa terlalu mengintervensi anak dalam proses pencarian jati dirinya, karena remaja justru akan merasa bahwa proses independensi dirinya terancam yang akan menimbulkan sikap tertutup dan lebih defensive terhadap setiap input yang diberikan oleh orangtua.
Terlepas dari berbagai pandangan tentang bagaimana menghadapi perlaku remaja dan segala permasalahannya, yang pasti saat ini diluar
Wallahua’lam…
0 komentar:
Posting Komentar