.:: Suami oh Suami ::.

Rabu, 17 Desember 2008

“Sudah sejak kami masih pengantin baru dia seperti itu mbak.. paling tidak enak dihatiku mendengar kalimat ‘menyesal aku kenapa dulu mau menikah sama kamu dik…’ hanya karena aku mengingatkannya untuk tidak sering pulang malam jika pekerjaan sudah selesai..” kudengar lagi kalimat itu untuk kesekian kali, kulihat wajahnya sambil mencari jejak air mata yang lagi-lagi keluar…entah untuk kesekian kalinya. Belum lagi suaminya yang sudah beberapa hari tidak pulang dan seringkali seperti itu sejak pengantin baru. Padahal usia pernikahan mereka baru genap setahun dan telah dikaruniai seorang putra yang lucu. Menurutku bukan hal yang wajar bagi pasangan pengantin baru yang harusnya sedang senang-senangnya merenda hari-hari bersama, dan harusnya akan selalu seperti itu…


Terlalu naïf memang jika aku tampak membela sang istri…hanya karena aku perempuan. Tapi aku bisa memahami dengan pasti bagaimana perasaannya, bagaimana jika pekerjaan suami yang menuntun dia harus berangkat pagi-pagi sekali dan baru pulang hingga larut malam…disaat anaknya telah tidur dan istrinya menunggu dengan setia, tapi justru ketika akhir pekan dia menghabiskan waktunya ditempat lain entah dimana… tidak wajarkah jika seorang istri merindukan keberadaan suaminya…bukan karena suaminya tengah melaksanakan tugas ditempat yang jauh hingga harus menahan kerinduan karena terpisah jarak dan waktu… bukan juga karena suaminya pergi berjihad hingga dia harus mengikhlaskannya demi Ridho Allah SWT.. tapi karena suaminya lebih memilih menghabiskan waktu akhir pekan atau waktu luang di akhir kerjanya entah dimana…dengan alasan yang tidak pernah diketahuinya…dan tidak mengetahuinya…


Terlepas dari kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sang istri, seorang suami berkewajiban untuk menjaga amanah baru yang dia terima melalui ikrarnya di hadapan Allah SWT. Meski suami berhak untuk marah atau tidak menggauli istrinya dengan tujuan untuk menghukum atau memberikan pelajaran…tapi hendaknya dengan cara yang baik dan tidak menyinggung hati istrinya. Komunikasi yang baik mutlak diperlukan dalam menjalankan roda kehidupan berumah tangga. Bagaimana pasangan baru bisa saling menghargai adanya perbedaan, dan kebiasaan pasangan yang mungkin bertolak belakang dengan kebiasaannya, bagaimana memberikan penjelasan tentang apa yang dirasakan dari pasangannya maupun bagaimana menyikapi penjelasan yang diterima dari pasangan.


QS. An-Nisa’ (19): Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.


Hal ini berkaitan dengan masa taaruf sebelum diputuskan untuk melanjutkan pada tahap khitbah… Memang tidak mungkin bisa mengetahui secara keseluruhan bagaimana karakter dan kebiasaannya pada masa taaruf, namun hal tersebut dapat dilihat dari prinsip hidup yang dia sodorkan, karenanya kriteria agama menjadi prioritas utama. Dari sana dapat kita fahami bagaimana akhlaknya serta bagaimana pandangannya akan kehidupan dunia dan akhirat serta bagaimana hubungannya terhadap sesama manusia. Apa visi dan misi hidupnya, karena kecenderungan manusia tidak bisa menerima perbedaan yang bersifat prinsip. Yah…tidak mungkin seorang muslimah bisa sejalan dengan seorang ahli minuman keras dan berjudi selama dia belum bertaubat, sementara prinsip hidup keduanya sangat bertolak belakang. Begitu juga sebaliknya, tidak mungkin seorang mukmin yang soleh menikah dengan perempuan yang sangat jauh prinsip hidupnya dari dirinya. Kita memang harus ekstra berhati-hati terhadap segala jenis tipu daya dunia yang melenakan, dunia dan segala isinya bukan akhir dari tujuan hidup kita, karenanya prioritas agama menjadi pilihan mutlak bagi siapapun manusia yang menghendaki kehidupan kekal yang lebih indah.


Wallahua’lam.

.:: SEMINAR PENANGGULANGAN HIV/AIDS ::.

"Apa hukumnya merokok menurut islam?”
“Kenapa orang usia produktif lebih banyak yang kena AIDS?”
“Syeikh Puji itu kan istrinya banyak, jadi ada kemungkinan dia kena AIDS ga?”
“Amrozi itu salah nggak sih mbak? Kenapa dihukum mati?”
“Kenapa orang kok banyak yang pake Narkoba?”

Begitulah sebagian pertanyaan anak-anak SLTP pada acara sosialisasi penanggulangan HIV AIDS dalam rangka peringatan Hari AIDS se dunia. Tidak mudah untuk memahami apa yang mereka fikirkan memang, meski gerak gerik dan perilakunya terkadang terlihat polos akan tetapi sebenarnya proses yang mereka alami banyak memberikan input yang seringkali tak tersaring serta memerlukan media untuk bisa mengurai keterbukaan. Hal itu bisa dilihat dari berbagai respon yang muncul manakala saya dan teman-teman memaparkan materi yang berkaitan dengan HIV AIDS yang salah satu penanggulangannya adalah dengan cara mengikuti sistem pergaulan secara islami.

Sorak sorai mereka begitu ramai manakala teman saya membahas tentang “pacaran”, khususnya siswa laki-laki, sedangkan siswi perempuan lebih banyak hanya tersenyum dan diam, respon alami memang, dimana anak perempuan memang dikenal lebih pemalu dan pendiam sementara anak laki-laki cenderung lebih berani berekspresi. Gelora serta rasa ingin tahu mereka yang cukup besar membuat mereka memberikan respon yang berbeda pada setiap anak terhadap input. Oleh karenanya, lingkungan tempat remaja tahap awal ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap proses perkembangan emosi mereka. Lingkungan terdekat, baik itu orang tua, teman, tempat beraktivitas, dll sangat berpengaruh terhadap kecerdasan remaja dalam menangkap nilai-nilai yang mereka dapatkan guna merumuskan prinsip hidup yang selanjutnya akan menjadi input bagi syaraf otak dan hati untuk bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Pokok permasalahan utamanya adalah kecemasan terhadap permasalahan remaja ini tidak disadari sepenuhnya oleh remaja itu sendiri, mereka hanya berpandangan bahwa orang dewasa cenderung berlebihan dalam mewaspadai perilaku mereka. Sehingga komunikasi yang dibangun antara remaja dan orang dewasa yang terkait dalam lingkungannya (orangtua) menjadi hal paling penting untuk meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya kewaspadaan diri. Akan tetapi orangtua juga tidak bisa terlalu mengintervensi anak dalam proses pencarian jati dirinya, karena remaja justru akan merasa bahwa proses independensi dirinya terancam yang akan menimbulkan sikap tertutup dan lebih defensive terhadap setiap input yang diberikan oleh orangtua.

Terlepas dari berbagai pandangan tentang bagaimana menghadapi perlaku remaja dan segala permasalahannya, yang pasti saat ini diluar sana ada berbagai media dan pengaruh pergaulan global yang siap menggerus para remaja. Walaubagaimanapun, keimanan adalah benteng yang paling ampuh.

Wallahua’lam…

.:: IBU BERJILBAB Vs ANAK GADIS ::.

Rabu, 03 Desember 2008

Sekali lagi saya temukan pemandangan itu, seorang ibu berjilbab dengan anak gadisnya yang belia..yang membuat aneh adalah anak gadis itu dibiarkannya berjalan diluar dalam keadaan “setengah berbusana” (begitu biasanya saya dan ayah menyebut perempuan yang auratnya terbuka). Bagaimana mungkin seorang ibu yang telah berjilbab membiarkan putrinya yang sudah baligh dalam keadaan setengah telanjang seperti itu, terus terang saya prihatin dengan kondisi tersebut, bukan karena saya adalah manusia yang sempurna dan tidak bisa berbuat salah, akan tetapi secara kasat mata orang awwam pun akan bisa menilai bagaimana mungkin perintah wajib menutup aurat bagi seorang muslimah yang telah difahami oleh seorang ibu yang telah berjilbab tidak ditularkan terhadap anak gadisnya, jika anak gadis itu belum mengikuti ibunya yang berjilbab, minimal dia tidak memakai busana yang benar benar mempertontonkan aurat yang seharusnya ditutup dan dilindungi.

Pemandangan ini sudah seringkali saya temui, di mall, stasiun, di tempat casting, di kontes modeling, bagaimana seorang gadis dengan celana pendek, baju dengan lengan dan dada terbuka, berlenggak lenggok diluar dengan didampingi ibunya yang berjilbab, dan lebih aneh lagi…pada umumnya fenomena ini saya temukan pada kalangan keluarga “kelas atas”, mungkin fenomena ini terlalu pahit untuk diungkapkan, khususnya bagi yang bersangkutan (jika kebetulan membaca tulisan ini). Tapi itulah kenyataannya.. pemandangan yang sering saya temui inilah yang pada akhirnya menggelitik saya untuk menuliskannya.

Sebenarnya apa yang menjadi penyebab? Dalam hal ini apakah orangtua yang terlalu memberi kelonggaran “mendidik” seorang anak, ataukah seorang anak yang membangkang terhadap orangtua. Tetapi bukankah sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk mendidik anak-anak yang telah diamanahkan Allah SWT kepadanya dengan memberikan pengetahuan agama yang baik sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan, terutama dalam hal tauhid, akidah akhlaq dan fiqih. Dalam kaitannya dengan fenomena diatas adalah ketika sang ibu memahami bahwa menutup aurat adalah perintah yang wajib lantas kenapa masih memberikan kelonggaran pada anak gadisnya untuk mengumbar auratnya, apalagi dalam konteks pengembangan diri seperti yang saya sebutkan diatas. Saya rasa ada banyak media pengembangan diri yang luas tanpa harus melanggar batas-batas syar’i. Kalaupun pembangkangan terjadi pada seorang anak, maka orangtua berhak untuk memberikan pengertian yang tegas, apalagi perintah menutup aurat adalah perintah langsung dari Allah SWT yang memiliki kedudukan tertinggi daripada perintah orangtua.

Kelonggaran dan toleransi terhadap hal-hal yang “dianggap” kecil dan sepele belum tentu mendatangkan mudharat yang tidak besar nantinya, bisa jadi toleransi terhadap anak dalam hal menutup aurat dengan alasan apapun ternyata justru berdampak pada pergaulan yang justru membawa sang anak pada dunia yang jauh dari harapan orangtua. Saya sebagai muslimah yang juga sedang “belajar” ketika melihat pemandangan tersebut sejujurnya hati saya teriris, pedih, seketika saya cuma bisa memejamkan mata dan hanya bisa membathin, saya hanya membayangkan seandainya itu terjadi pada diri saya “bagaimana mungkin jika saya yang berjilbab kemudian membiarkan anak gadis saya yang telah baligh nyaris telanjang dihadapan umum - Naudzubillah Min Dzalik” Benarkah ini bagian dari fenomena akhir zaman, dimana sang ibu sebagai orangtua rela membiarkan aurat anak gadisnya ditelanjangi dengan bebas oleh mata kaum adam entah dengan alasan apapun, popularitas, kesuksesan, dll yang menurut saya pasti semu karena hanya berlandaskan keinginan duniawi semata. Bukankah setiap saat Allah bisa saja mengambil nyawa kita tanpa memandang berapa usia kita, apakah kita telah siap, apakah kita telah bertaubat, dan ketika nafas telah sampai di tenggorokan, apa dan siapakah yang kita ingat... Wallahua’lam.

.:: Soe’s Poem ::.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah...
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza...
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku...
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu..
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah pandalawangi..
Ada serdadu-serdadu amerika yang mati kena bom didanau...
Ada bayi-bayi yang mati lapar di biafa...
Tapi aku ingin mati disisimu manisku...
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya...
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu...
Mari sini sayangku...
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku...
Tegaklah kelangit luas... atau awan yang mendung..
Kita tak pernah menanamkan apa-apa..
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa..
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan...
yang kedua dilahirkan tapi mati muda...
dan yang tersial adalah berumur tua...
Berbahagialah mereka yang mati muda...
Makhluk kecil...
kembalilah dari tiada ke tiada...
Berbahagialah dalam ketiadaanmu...

.:: Lembah Pandalawangi ::.

Pada satu ketika yang telah lama kita ketahui...
Apakah kau masih selembut dahulu...
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap...
Sambil membetulkan letak leher kemejaku...
Kabut tipispun turun pelan-pelan dilembah kasih…lembah pandalawangi...
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram..
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin...
Apakah kau masih akan membelaiku semesra dahulu...
Ketika kudekap.. kau dekapan lebih mesra... lebih dekat...
Apakah kau masih akan berkata.. "Kudengar detak jantungmu..."
Kita begitu berbeda dalam semua.. kecuali dalam cinta...
Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor..
lumpur yang kotor...
Tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindarkan diri lagi... maka terjunlah...

.:: Kembali pulanG ::.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Tak terasa tiba saatnya aku untuk kembali pulang kekota tempatku dilahirkan..dan meninggalkan kota Malang setidaknya untuk saat ini. Entah untuk beberapa saat ada perasaan sedih mengerayapi hatiku, kota Surabaya yang panas akan jadi tempat persinggahanku untuk sementara waktu..yah..sementara karena aku sudah yakin bahwa sepertinya aku tidak akan bertahan lama tinggal di kota panas itu. Meski aku lahir disana..tapi lebih dari separuh usiaku aku tinggal di kota lain, kota yang lebih tenang dan nyaman..setidaknya bagiku.

Kota Malang adalah kota ketiga yang kusinggahi sebagai tempatku berproses dan menempa diri, aku banyak menemukan kegagalan disini, tapi di kota ini juga muncul berbagai semangat..untuk bertahan dan untuk selalu memperbaiki diri.. Kuakui bukan hal yang mudah, terutama di akhir2 studiku belajar di universitas..dimana aku sudah mulai terlepas dari beberapa amanah, dimana aku harus memaknai keberadaan diriku sendiri.. Kutemukan banyak realitas yang pahit, harus kuhadapi lingkungan yang baru yang selama ini belum kukenal dan apalagi menyentuhnya. Sebelumnya memang aku lebih disibukkan oleh kuliahku dan berbagai kegiatan organisasi..
Tapi ternyata dari situ aku belajar banyak hal juga yang sangat berharga bagiku.

Aku selalu heran setiap kali melihat teman kos yang selalu pulang setiap minggu sekali. Kufikir apa enaknya sering pulang? Mungkin karena aku telah terbiasa hidup jauh dari rumah sejak aku lulus SD, aku terbiasa mandiri, menyelesaikan semuanya tanpa bantuan dari orang tua, problem masa remajaku, caraku mengambil keputusan, bergaul, mengatasi kesedihan, emosi, dll semuanya nyaris kupelajari sendiri. Aku baru sadar sekarang...klo sudah lama sekali aku nggak merasa kangen rumah..sejak nenek dari ibu meninggal dunia pada saat semester III kuliah. Kesedihan luar biasa yang pernah kurasakan kehilangan seseorang yang luar biasa berarti dalam masa kecil dan remajaku..karena sejak aku masih bayi, kesibukan ayah dan ibu membuatku harus berada dalam asuhan nenek, dan kurasakan kasih sayang yang luar biasa hebat saat itu..meski aku merasa aku dibedakan dari cucu nenek yang lain.. dan saat saat itu benar benar kuhargai, betapa kangennya aku sama nenek waktu aku harus berada jauh di pesantren, begitu juga pada saat aku harus kuliah.. nenek selalu jadi seseorang pertama yang kukangeni sebelum ayah ibu..
Aahh... ternyata sudah lama aku ga' pernah kangen lagi sama rumah.. tapi sekarang.. aku kangen Ibu Ayah.. dan semua keluargaku..

Aku akan pulang ^_^ dan rumah akan menjadi tempat yang paling nyaman bagiku karena disana aku akan aman.. dari setiap hal yang tidak boleh terjadi padaku..dan setiap orang.. karena memang sudah seharusnya rumah kita menjadi tempat yang paling nyaman buat kita.
Tapi aku akan tetap merindukan teman, sahabat, dan setiap memory yang terukir dalam..
Semoga aku bisa datang kembali dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang Amin.
^_^

.:: KeindahaN CiptaanNYA ::.


Subhanallah...
Maha Suci Allah yang telah menciptakan burung mungil ini..
dengan sangat indah..
Semoga kita tergolong sebagai orang2 yang senantiasa bersyukur...

Ga' seperti hatiku yang sedang gundah gulana.. sudah kesekian kalinya kejadian seperti tadi malam terulang dalam waktu hampir seminggu ini. Aku dan air mataku kembali tertumpah..untuk menangisi hatiku yang gundah..

Ya Allah..engkau Maha Mengetahui apapun yang hamba rasakan saat ini, hamba sadar bahwa hamba cuma manusia biasa...

Pedih rasanya hingga ingin menangis, aku tau aku lemah dan tidak berdaya.. tapi rasanya lelah sekali.. hingga aku ingin tertidur.. pelan.. pelan.. mataku terpejam.. hingga semuanya kembali baik baik saja..

My Family

Kamis, 23 Oktober 2008


Pyzam Family Sticker Toy

Get your own Family Sticker Maker & MySpace Layouts.




.:: Memahami Bakat dan Minat Anak ::.

Seorang anak yang dilahirkan didunia ini merupakan bentuk yang paling sempurna hasil penciptaan Allah. Meski bukan berarti kesempurnaan fisik, akan tetapi sebenarnya Allah telah menganugerahkan beragam potensi dan kemampuan yang harus disadari oleh setiap individu pada saat mengalami perkembangan usia, entah itu seorang anak yang cengeng dan sensitif, anak yang pemarah, anak yang kurang ekspresif, anak yang pemalu, dll. Potensi dan kemampuan inilah yang seharusnya disadari oleh orangtua sebagai pendidik utama didalam keluarga sehingga bisa segera ditindaklanjuti dalam bentuk pengembangan yang beragam.
Mungkin sebagian besar kecenderungan orangtua ketika menemui bakat dan minat seorang anak yang tidak sesuai dengan kemauannya adalah serta merta mengalihkan aktivitas anak pada hal yang berbeda yang sama sekali diluar bakatnya, mungkin maksud orangtua ini tidaklah salah agar dapat mengetahui potensi anak dibidang yang lain, hanya saja juga kurang tepat ketika sama sekali menghentikan perhatian anak dari aktivitas anak yang sebenarnya menjadi bakat dan minatnya. Karena seorang anak cenderung berubah-ubah maka biarkan dia mengalir seperti air, mengikuti insting yang dituntun oleh potensinya untuk melakukan sesuatu, tugas orangtua hanyalah mengarahkan dan menunjukkan bahwa ”ini benar” dan ”ini kurang tepat”.
Mungkin saya memang tidak mempelajari ilmu psikologi, saya juga tidak berpengalaman, tapi menurut yang saya fahami jika pada saat proses pertumbuhan dan perkembangannya seorang anak terlalu banyak dibatasi untuk mengembangkan potensinya maka dia cenderung menjadi anak yang pendiam, pemalu, pasif atau bahkan sebaliknya menjadi pemberontak dan pemarah. Karena sebenarnya tidak ada anak yang pemalu, tidak ada anak pendiam, yang ada adalah anak tersebut terlalu banyak menerima batasan-batasan yang menghambat perkembangan potensinya dan batasan-batasan tersebut tersimpan dibawah alam sadarnya yang mengendap dalam memori otaknya bahwa dia tidak boleh begini, harus begini, harus begitu, ini salah, dll.
Mungkin saya kelihatan sok tau ya.. ^_^ karena saya bukan seorang psikolog anak atau semacamnya. Tapi saya hanya berusaha memahami apa yang selama ini menjadi perhatian saya atau bahkan mungkin saya dan adik laki-laki saya sebenarnya juga mengalaminya. Saya memang hanya dua bersaudara yang lahir dari keluarga yang sangat memegang teguh ajaran agama islam.
Sejak kecil saya dan adik saya sudah mengalami didikan yang keras dari ayah sebagai kepala keluarga, sejauh saya tahu semua yang diajarkan ayah saya memang bagus, karena yang terjadi adalah perkembangan saya sangat pesat, saya sudah bisa baca Al-Qur’an sejak kelas satu SD, saya sudah ikut lomba MTQ sejak saya SD dan mendapat juara satu sekodya surabaya, kelas 5 SD saya juara satu lomba pidato sekodya sby, meski akibatnya sejak kecil saya tidak pernah dekat dengan ayah saya, dan ketakutan setiap kali akan memulai bicara dengan beliau karena ada hal yang saya sangat ingin sekali lakukan tapi saya tidak boleh lakukan, saya tidak boleh mengaji di TPQ bersama anak-anak yang lain dan jika saya melanggarnya saya akan dihukum habis-habisan oleh ayah (hehe maaf ya ayah..) saya hanya boleh mengaji dirumah..dengan ayah saya, itupun saya harus cepat belajar mengeja lafadz-lafadz Al-Qur’an dengan ejaan yang sudah harus benar dan fasih, seusai mengaji bisa dijamin baju saya pasti akan basah oleh keringat karena saya amat takut salah pd saat mengaji dan tidak mau kena marah ayah. Saya juga sangat senang memainkan pianika dan kata ibu saya, saya bisa cepat belajar dan memainkan banyak lagu dengan pianika tersebut. Saya juga menjadi salah satu vokalis penyanyi cilik di salah satu grup musik di sby karena saya sangat senang menyanyi. Pendek kata, saya menjadi anak yang aktif dan tidak pernah malu tampil di depan umum.
Pada suatu hari saat saya masih SD saya diikutkan tes bakat dan minat, dan hasilnya bakat dan minat saya 80% di bidang seni, dan tes itu juga terulang pada saat saya SMU dan masih dengan hasil yang sama. Tapi saya tidak memiliki peluang untuk mengembangkan potensi saya karena ayah sebagai kepala keluarga memegang otoritas penuh akan keberlangsungan pendidikan putra-putrinya. Saya harus sekolah disini, sejak SMP kelas I saya harus masuk pesantren, kuliah disini, kegiatan yang boleh saya ikuti ini, lomba yang boleh saya ikuti ini dan hingga SMU saya sering mendapatkan Juara I lomba pidato, juara I lomba MTQ, mewakili sekolah saya di lomba MSQ hingga tingkat propinsi.. apa yang dilakukan orangtua saya memang benar, tujuannya adalah untuk mendidik putra-putrinya dengan baik dan saya tidak pernah menyesal dengan kehidupan yang sudah saya jalani. Tapi, disaat saya sudah mulai kuliah hingga sekarang disaat saya sudah menyelesaikan studi, saya masih merasa ada yang sangat kurang dari diri saya, saya memang punya cita-cita dan impian, tapi saya merasa kurang karena tidak bisa mengaktualisasikan potensi saya dibidang seni, saya selalu mencari-cari apa dan dimana saya bisa mewadahinya, tapi saya merasa saya sudah agak terlambat. Saya sangat iri dengan Bang Opick, Noe vokalis LETTO, Wafiq Azizah, Sulis, dll ^_^ karena mereka punya kesempatan untuk beraktualisasi dan mendakwahkan islam melalui karya seni mereka. Tapi saya tidak putus asa, semoga suatu hari nanti saya tetap bisa beraktualisasi dan mendakwahkan islam dengan potensi apapun yang saya miliki ^_^
Hikmah yang ingin saya bagi adalah betapa indahnya seandainya setiap orangtua bisa mensinergikan apa yang menjadi harapannya terhadap putra putrinya tanpa harus mengabaikan potensi alami yang ada pada diri seorang anak, betapa Maha Besarnya Allah yang telah melengkapi diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki, karena sesungguhnya tidak ada satupun yang sia-sia dari penciptaan Allah SWT ^_^

PelangikU


Pyzam Glitter Text Maker
Glitter Graphics Maker & MySpace Layouts